Disuatu
saat, ada seoraang perempuan yang bernama Vanya...
Dia adalah gadis yang cantik
dan pintar.
Impiannya adalah memiliki
seorang teman... Tapi sayangnya dia tidak memiliki teman...
Musim
Salju akhirnya datang, Vanya pun memakai Jaket tebal dan pergi keluar untuk
bermain salju sendirian ...
Tapi ketika Vanya sedang
asyik membuat manusia salju, datanglah seorang gadis sebayanya sembari menyapa
Vanya
“hai” seru gadis itu. “h...
ha... hai j... ju... juga” ujar Vanya gugup sembari terbata bata.
“namamu siapa ? apa yang
kamu lakukan ? bolehkah aku ikut bermain denganmu ? “ ujar gadis itu lagi.
“namaku vanya, aku sedang membuat manusia salju... kau boleh ikut bermain
denganku... bolehkah aku tau namamu juga... ? “ ujar Vanya yang sekarang lebih
berani.
“oh namamu Vanya... namaku
Alisha... “ujar Alisha. Tanpa ragu Vanya pun mengajak
Alisha bermain.
“oh iya Vanya... rumahmu
dimana ?” tanya Alisha. “rumahku ada di golden apple street no 135... Rumahmu
dimana Alisha ???” ujar Vanya. “rumahku juga ada di golden apple street lho!...
hanya saja aku no.128”ujar Alisha. Selesai Alisha menjawab pertanyaan
Vanya, mereka menatap satu sama lain. “Berarti kita adalah TETANGGA”ujar mereka
bersamaan.
Keesokannya,
Vanya menjadi lebih sering memegang perut dan kepalanya. Tapi ketika dirumah,
Vanya biasa saja. Hinggga Maudy selalu bertanya : “Vanya! Apa kamu tidak
apa-apa ?, Mengapa kau selalu memegang perut dan kepala-mu Van ???”tanya Alisha.
“aku tidak apa-apa... tenang saja Maudy!”jawab Vanya.
Setiap
hari sampai sekarang, Vanya masih saja terlihat sakit. Tapi Vanya selalu saja
menjawab bahwa seolah dia tidak apa-apa. Ketika pelajaran Olahraga, Maudy dan
Vanya satu tim. Mereka berdua harus mengalahkan tim lain agar menang. Tapi
tiba-tiba saja Vanya lagi-lagi memegang perut dan kepalanya. Lalu Vanya
tiba-tiba jatuh pingsan. Maudy berteriak meminta bantuan teman yang lain.
Teman-teman pun membawa Vanya ke UKS. Lagi-lagi Maudy bertanya apakah Vanya baik-baik
saja. Dan Vanya pun yang tadinya selalu menjawab tidak apa-apa malah menjawab
“kepalaku pusing dan Aku mual... Aku ingin pulang”jawab Vanya. “baiklah, akan
kuberitahu pada Bu Elis, kau tunggu saja disini.” Jawab Maudy. Vanya pun
menunggu di ruang UKS. Tak lama kemudian, Bu Elis mengantar Vanya pulang.
Seminggu
kemudian, Vanya sudah sehat. Tapi dia masih suka memegangi perut dan kepalanya.
Tapi hanya kadang-kadang. Soalnya dulu Vanya sering sekali memegang peerut dan
kepalanya. Sepertinya 1 jam sekali. Sekarang Vanya sudah agak baikan jadi Maudy
sekarang tidak khawatir lagi akan kesehatan Vanya.
Sebenarnya
Vanya memiliki penyakit ketika dia lahir. Hanya saja keluarga Vanya tidak
mengetahui penyakit Vanya sejak lahir...
(Cerita ini hanya fiktif belaka. tidak ada hubunganya dengan tokoh, tempat, waktu, dan situasi tertentu. Cerita ini hanya karangan. )
(Cerita ini hanya fiktif belaka. tidak ada hubunganya dengan tokoh, tempat, waktu, dan situasi tertentu. Cerita ini hanya karangan. )
Komentar
Posting Komentar